Written by Karlina, November 19, 2020
Ya, tentu saja, kita tidak akan mau menginvestasikan dana yang kita miliki di perusahaan-perusahaan yang kinerjanya buruk. Apalagi perusahan yang sudah terdeteksi sebagai perusahaan yang hampi mengalami kebangkrutan atau bisa dibilang perusahaan “sekarat”. Hal ini menjadi dilema bagi para investor, bagaimana kita mendeteksi keadaan perusahaan seseoramg? Toh pastinya mereka (pemilik perusahaan) tidak akan membertahu masyarakat secara gamblang kalau perusahaannya sedang “sekarat”. Beruntung, Kita memiliki berbagai literatur mengenai hal ini. Berikut adalah yang dikatakan oleh ahli ekonom dunia Scott Fearon dalam bukunya "Dead Companies Walking: How a Hedge Fund Manager Finds Opportunity in Unexpected Places".
Praktek shorting yang cukup populer di berbagai bursa dunia, sebenarnya sangat dibatasi di Indonesia. Namun demikian, kita bisa mendapatkan beberapa pelajaran penting dari puluhan tahun pengalaman Scott Fearon tentang mengenali perusahaan-perusahaan yang "stress" dan hanya mampu memperpanjang umurnya dengan menumpuk hutang setinggi gunung dan taktik riskan lainnya. Apalagi, dengan tingginya suku bunga dan gelagat akan adanya kenaikan suku bunga, maka bukan tidak mungkin perusahaan-perusahaan yang menampilkan salah satu atau kelima dari tanda-tanda perusahaan "sekarat" yang disebutkan oleh Fearon ini akan muncul:
Penurunan Revenue & Penumpukan Hutang
Kedua masalah ini sepintas nampaknya muncul di dua kategori berbeda, tetapi keduanya sebenarnya hampir selalu muncul bersamaan, dan biasanya menjadi pertanda awal masalah kritis untuk sebuah perusahaan. Pertumbuhan revenue adalah nyawa setiap usaha sukses. Ketika revenue mulai pudar, beban hutang biasanya malah cenderung meningkat seiring perusahaan-perusahaan dipaksa untuk mendanai operasional dengan dana hutang. Kecuali keberuntungan mereka berbalik secara dramatis, maka perusahaan-perusahaan yang terjebak dalam lingkaran setan ini jarang menghindari kebangkrutan.
Ekspansi Berlebihan (Over-Expansion)
Fearon mengatakan bahwa ia telah melihat banyak sekali perusahaan tumbuh kearah kehancuran. Kesuksesan jangka pendek meyakinkan tim manajemen untuk mendongkrak neraca perusahaan agar bisa berekspansi secepat mungkin. Meski strategi ini biasanya mampu menggenjot puncak revenue, setidaknya untuk sementara waktu, tetapi strategi yang sama akan "memakan" margin dan membuat perusahaan jadi rapuh terhadap krisis. Menurut Fearon, perusahaan sektor energi terkenal akan tindakan seperti ini; di masa-masa indah, mereka rakus menyerap hutang dan tumbuh seperti rumput, tetapi ketika pasar bergeser maka kebanyakan dari mereka berubah "dari hero jadi zero".
Skema Penghasil Revenue Baru yang Mustahil
Ketika kondisi makin sulit, bahkan pemimpin perusahaan yang paling cerdas dan ulung akan sering mengejar ilusi. Daripada menghadapi realita masa depan perusahaan mereka dan mengalihkan strategi (yang biasanya berarti juga harus mengakui kesalahan-kesalahan mereka), mereka malah mempromosikan peluang bisnis baru yang tidak jelas. Menurut Fearon, hal semacam ini sering terjadi di sektor farmasi; sebuah obat baru populer akan mulai kehilangan pangsa pasarnya, dan pembuatnya akan mulai meluncurkan banyak press release tentang masa depan obat itu atau prospek "durian runtuh" dari penjualan luar negeri. Namun kenyataannya, manfaat baru itu biasanya jarang membawa tambahan revenue signifikan dan perusahaan pesaing pun hampir selalu mengejar pangsa pasar luar negeri yang sama dengan mereka.
Obligasi Korporat dengan Yield-to-Maturity (YTM) yang Membengkak
Minat investor ritel bermodal kecil saja biasanya bisa mencegah saham paling busuk untuk jatuh ke nol; tetapi berbeda halnya dengan obligasi. Pembeli obligasi biasanya adalah investor institusional bermodal besar; dan karenanya maka yield obligasi korporat bisa menjadi indikator kemungkinan kebangkrutan yang lebih handal. Ketika YTM membengkak sedemikian rupa, maka yang mau mendekatinya hanyalah orang-orang yang ingin mengambil profit dari reorganisasi perusahaan yang akan datang.
Industri yang Tenggelam
Fearon mencatat bahwa hampir setiap perusahaan sekarat yang di-shorting-nya pernah menjadi saham "murahan". Kegagalan bisa terjadi secara gradual, dan bahkan perusahaan yang bermasalah bisa memunculkan pertanda positif seperti cash flow yang lumayan. Indikator-indikator ini kerap menggoda value investor yang gagal melihat gambaran yang lebih luas. Ia memberikan contoh bahwa saat telepon genggam sudah mulai menggeser telepon umum pada 1999, masih banyak analis Wall Street terkemuka merekomendasikan saham perusahaan telepon umum. Fearon mengatakan bahwa dirinya menghabiskan waktu diantara laporan-laporan finansial, tetapi kadang perlu juga untuk berhenti mengamati spreadsheet dan proyeksi-proyeksi untuk bertanya pada diri sendiri satu pertanyaan dasar, "Akankah perusahaan ini eksis dalam lima atau sepuluh tahun?"
Investor sering bereaksi pada tindakan insider, dan memang itu bisa berguna untuk mengira-ngira mengapa kebanyakan eksekutif atau anggota direksi menjual atau membeli saham perusahaan. Mereka bisa saja menjual saham untuk mendanai biaya universitas anak mereka yang mahal. Tetapi jika sebuah saham secara konsisten merosot bersamaan dengan ketika pemilik-pemilik saham besarnya "melarikan diri", maka bisa jadi ada sesuatu yang busuk. Ini adalah kejadian yang langka, dan Fearon mengatakan dirinya mungkin hanya bertemu dengan dua atau tiga perusahaan yang seperti itu, tetapi bila ia bertemu yang seperti itu, maka bisa jadi ia akan langsung men-shorting-nya.