Written by Astronacci, January 28, 2026
Jakarta, 28 Januari 2026 - Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 7% hari ini mengejutkan banyak investor ritel. Kepanikan meluas, antrian jual meningkat, dan sentimen negatif mendominasi pasar. Namun bagi mereka yang mengikuti riset Astronacci sejak akhir 2025, kondisi ini bukanlah kejutan.
Sejak 31 Desember 2025, Prof. Dr. Gema Goeyardi, Founder & CEO Astronacci International, telah menyampaikan bahwa IHSG berada di fase rawan koreksi setelah menyentuh area 9.150. Dalam proyeksi Time Trading Astronacci, IHSG diperkirakan memasuki fase penurunan menuju 8.200 area yang akhirnya tercapai pada perdagangan hari ini.
“Penurunan tajam ini adalah bagian dari siklus besar. Kami sudah melihat sinyalnya sejak Desember lalu bahwa IHSG berada dalam kondisi jenuh beli dan memasuki area korektif secara waktu dan harga,” ungkap Prof. Dr. Gema.
Menurut Prof. Dr. Gema, tekanan yang terjadi hari ini merupakan konsekuensi alami dari fase jenuh beli (overbought) yang telah terbentuk sejak akhir tahun lalu, baik secara harga maupun waktu.
“Saat harga dan waktu sama-sama menunjukkan kejenuhan, koreksi bukan lagi kemungkinan, melainkan kepastian. Yang membedakan hanyalah siapa yang siap dan siapa yang panik,” jelasnya.
Banyak investor ritel baru menyadari risiko ketika harga sudah jatuh. Padahal, sinyal peringatan telah muncul jauh sebelum penurunan tajam terjadi.
Prof. Dr. Gema Goeyardi menilai tekanan kali ini tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga oleh Defect System, yaitu kondisi pasar yang membuat aksi jual secara masif. Dalam situasi seperti ini saham dengan valuasi tinggi menjadi korban utama. fundamental sering diabaikan dan reaksi investor lebih emosional dibanding rasional. Pola ini memiliki kemiripan kuat dengan kondisi saat Tariff War 2025, di mana sentimen negatif menyebar cepat dan mendorong penurunan masif lintas sektor.
Menariknya, tekanan pasar hari ini bertepatan dengan siklus astrologi Mars Conjunction Pluto pada 28 Januari 2026, sebuah fase yang dalam sejarah kerap berkorelasi dengan titik ekstrem pasar. Siklus serupa terjadi pada 24 Maret 2020, yang dikenal sebagai fase krusial dalam pembentukan dasar pasar pasca COVID-19.
“Mars Conjunction Pluto sering muncul saat tekanan mencapai titik maksimum. Di banyak kasus, justru di sinilah proses bottoming dimulai,” ungkap Prof. Dr. Gema.
Bagi Astronacci, pertemuan antara harga, waktu, dan siklus hari ini menjadi sinyal penting yang tidak bisa diabaikan.
Penurunan IHSG hari ini sekaligus mengonfirmasi bahwa pasar telah resmi memasuki Major Cycle Wave 4, fase korektif dalam siklus besar. Berdasarkan perhitungan Time Trading Astronacci target koreksi awal 8.200 dengan potensi lanjutan (jika tekanan berlanjut) di 7.956 – 7.670. Bahkan secara teori, IHSG masih memiliki “utang pasar” menuju area 6.085 dari gap historis yang belum tertutup. Namun penting dicatat, koreksi besar tidak berarti pasar jatuh tanpa peluang.
Dengan IHSG yang telah menyentuh area support penting di sekitar 8.242, peluang rebound jangka pendek tetap terbuka, terutama untuk menutup gap yang terbentuk pada perdagangan hari ini.
“Di titik ini, harga dan waktu kembali bertemu. Rebound jangka pendek sangat mungkin terjadi. Namun strategi tetap lebih penting dibanding keberanian spekulatif,” tegas Prof. Dr. Gema.
Investor ritel diimbau untuk tidak bereaksi impulsif, melainkan membaca struktur pasar secara utuh.
Dalam kondisi volatil seperti saat ini, Astronacci merekomendasikan pendekatan berikut:
Menunggu konfirmasi rebound di area support sebelum entry
Menghindari saham overvalued yang rentan tekanan lanjutan
Fokus pada saham berfundamental kuat dengan harga diskon
Menggunakan Time Trading untuk menentukan timing entry-exit secara presisi
Di tengah tekanan luas, sektor perbankan justru masih berada dalam kondisi relatif underperform, menjadikannya kandidat penopang indeks ke depan. Berbeda dengan saham konglomerasi yang telah jenuh beli, perbankan dinilai memiliki struktur harga yang lebih sehat. Salah satu saham yang menjadi perhatian adalah BBRI, dengan support Rp3.440 dan target resistance Rp4.060. Selama harga bertahan di atas support, sektor perbankan berpotensi menjadi kombinasi defensif dan oportunistik dalam fase koreksi ini.
Astronacci menegaskan komitmennya untuk mendampingi investor ritel, bukan dengan janji, tetapi dengan pemetaan waktu dan risiko yang terukur.
“Saat investor ritel panik, time trader tidak ikut panik. Karena kami tahu kapan tekanan berpotensi berhenti dan kapan peluang mulai terbentuk,” tutup Prof. Dr. Gema.
Dalam market, yang menentukan bukan siapa yang paling cepat bereaksi, tetapi siapa yang paling siap saat momentum datang.