Written by Astronacci, June 03, 2026
Bitcoin (BTC) dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi, sehingga banyak trader sering terlambat membaca perubahan tren yang sedang terjadi.
Namun, bagaimana jika potensi fase koreksi, area bottom, hingga momentum bullish sudah bisa dipetakan beberapa bulan sebelumnya?
Melalui roadmap Bitcoin Astrology Cycle menggunakan Eye of Future Technology, Asst. Prof. Dr. Gema Goeyardi dan tim analis Astronacci berhasil memetakan pergerakan harga Bitcoin Februari-Juli 2025. Baca analisis selengkapnya di sini!

Eye of Future Technology adalah metode Astronacci yang digunakan untuk menganalisis potensi siklus market melalui kombinasi harga dan waktu.
Berbeda dengan analisis teknikal biasa yang hanya fokus pada harga saat ini, metode ini mencoba memetakan kemungkinan arah pergerakan market untuk beberapa bulan ke depan.
Melalui metode ini, trader dapat memperoleh gambaran tentang:
Dengan demikian, trader tidak hanya bereaksi terhadap pergerakan harga yang sudah terjadi, tetapi juga memiliki roadmap untuk mempersiapkan strategi lebih awal.
Baca Juga: Eye of Future JCI (IHSG) Agustus 2015 Dibahas di MNC TV, Seberapa Akurat?
Pada awal 2025, Bitcoin masih berada dalam tren bullish pasca halving dan banyak trader optimis harga akan terus naik.
Namun di saat yang sama, muncul beberapa pertanyaan, seperti arah pergerakan market Bitcoin selanjutnya, potensi area bottom, hingga peluang ATH.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Dr. Gema Goeyardi melakukan analisis Bitcoin menggunakan Eye of Future Technology untuk memetakan potensi siklus pergerakan BTC beberapa bulan ke depan.
Roadmap ini kemudian dipublikasikan pada 15 Januari 2025 sebagai bagian dari Bitcoin Almanac. Artinya, prediksi ini sudah dibuat jauh sebelum market memasuki fase koreksi, membentuk bottom, hingga akhirnya mencetak ATH baru.

Pada grafik di atas, ada dua kurva siklus utama yang digunakan untuk memetakan pergerakan market Bitcoin beberapa bulan ke depan.
Setelah bergerak di area psikologis $100.000, Bitcoin diproyeksikan memasuki fase koreksi. Kurva siklus menunjukkan momentum bearish mulai mendominasi sehingga trader perlu lebih berhati-hati terhadap potensi penurunan harga.
Setelah fase pelemahan berlangsung, proyeksi menunjukkan terbentuknya area lembah (cycle bottom). Area ini diperkirakan menjadi fase transisi dari tekanan jual menuju proses akumulasi.
Setelah memasuki area bottom, kurva kembali bergerak naik yang mengindikasikan potensi dimulainya fase bullish baru. Dalam fase ini, market diperkirakan mulai mendapatkan momentum untuk melanjutkan tren kenaikan yang lebih besar.
Roadmap ini dipublikasikan ketika market masih bergerak di sekitar area $100.000 dan sebelum fase koreksi besar benar-benar terjadi.
Baca Juga: Eye of Future JCI (IHSG) Maret 2019: Prediksi Tanggal Reversal

Beberapa bulan setelahnya, pergerakan harga Bitcoin menunjukkan hasil yang sangat menarik. Jika dibandingkan dengan roadmap yang dirilis pada 15 Januari 2025, urutan siklus market yang diproyeksikan sebelumnya terbukti terjadi dengan cukup akurat.
Sesuai dengan proyeksi fase bearish pada Bitcoin Astrology Cycle, harga BTC mengalami koreksi sekitar 22% selama periode Februari hingga Maret 2025. Koreksi ini menjadi fase pelemahan terbesar setelah sebelumnya bergerak di area psikologis $100.000.
Setelah tekanan jual berakhir, BTC membentuk area bottom di kisaran $74.000-$76.000. Area ini menjadi titik penting karena menandai berakhirnya fase koreksi dan mulai munculnya momentum akumulasi dari pelaku market.
Setelah membentuk bottom, Bitcoin mulai bergerak sesuai roadmap bullish yang telah diproyeksikan sebelumnya. Dari area low April 2025, BTC kemudian menguat sekitar 65%, membawa harga kembali ke tren naik yang kuat.
Momentum bullish yang berlanjut akhirnya membawa Bitcoin mencetak ATH baru di atas $123.000 pada Juli 2025.
Secara keseluruhan, fase market yang diproyeksikan sejak Januari 2025, mulai dari koreksi, pembentukan bottom, hingga bullish trend, terjadi sesuai dengan roadmap yang ditunjukkan oleh Bitcoin Astrology Cycle.
Baca Juga: Eye of Future JCI (IHSG) April 2020: Prediksi Market Rebound Pasca Crash
Eye of Future Technology ini tidak hanya fokus pada harga saat ini, tetapi juga mencoba membaca pergerakan market, momentum perubahan arah, dan kemungkinan timing reversal.
Karena market bergerak dalam siklus tertentu, metode ini dapat digunakan untuk membantu trader memahami:
Dengan begitu, trader tidak hanya bereaksi terhadap market, tetapi juga bisa lebih siap menghadapi kemungkinan pergerakan berikutnya.
Banyak trader beranggapan bahwa keberhasilan trading hanya bergantung pada kemampuan menemukan harga terendah atau tertinggi secara presisi. Padahal dalam praktiknya, kemampuan mengenali fase market jauh lebih penting.
Melalui studi kasus Bitcoin ini, terlihat bahwa memahami kapan market berpotensi memasuki fase distribusi, koreksi, akumulasi, hingga bullish trend dapat membantu trader menyusun strategi yang lebih terukur.
Trader yang memahami potensi area bottom sejak Maret-April 2025 memiliki kesempatan untuk mempersiapkan akumulasi lebih awal dibandingkan mereka yang baru masuk ketika market sudah berada dalam tren naik.
Inilah alasan mengapa pemahaman terhadap siklus market menjadi salah satu komponen penting dalam pengambilan keputusan trading maupun investasi.
Baca Juga: Eye of Future Mei 2022, Cara Prediksi Harga JCI (IHSG) dengan Akurat
Pergerakan market Bitcoin memang tidak dapat diprediksi 100%, tetapi trader tetap dapat meningkatkan kualitas keputusan jika memiliki roadmap yang lebih jelas.
Jika Anda ingin mendapatkan insight berupa analisis dan prediksi seperti Bitcoin Astrology Cycle ini, Anda bisa mempelajari lebih lanjut melalui Bitcoin Almanac 2026 yang bisa diakses melalui ASHOP.
Dapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai siklus market, timing pergerakan harga, strategi entry-exit, hingga prediksi harga Bitcoin 2026 agar dapat menyusun strategi trading yang lebih optimal. Hubungi kami sekarang untuk informasi lebih lanjut!