Written by Astronacci, September 15, 2026
IHSG mengalami koreksi setelah mencapai target 6.705. Di saat yang sama, harga oil kembali berada di area US$100-105 per barel, sementara Bitcoin menghadapi potensi koreksi setelah mengalami kenaikan.
Dalam analisis terbaru, Dr. Gema Goeyardi membahas potensi pergerakan IHSG berikutnya, kenaikan harga oil dan dampaknya terhadap kondisi APBN dan Rupiah, serta peluang koreksi pada Bitcoin. Lalu, bagaimana outlook ketiga market tersebut? Simak pembahasannya di sini!

Ilustrasi Pergerakan IHSG
(Sumber Gambar: Magnific)
Sebelumnya, IHSG telah mencapai target 6.705 yang diproyeksikan. Setelah mencapai level tersebut, pergerakan indeks mulai melambat dan tekanan jual kembali terlihat di market. IHSG pun tercatat mengalami penurunan sekitar 1,88%.
Meski cukup signifikan dalam satu hari, penurunan ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa IHSG sedang memasuki fase crash. Pergerakan harga tetap perlu dilihat berdasarkan struktur market secara keseluruhan.
Menurut analisis Dr. Gema, IHSG masih berpotensi mengalami koreksi menuju area 6.450-6.500. Koreksi ini diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa minggu sebelum IHSG kembali melanjutkan pergerakan naik menuju target yang lebih tinggi, termasuk area sekitar 7.900-an.
Baca Juga: IHSG Masih Recovery, Waspada Potensi Koreksi ke 6.186!

Ilustrasi Harga Oil
(Sumber Gambar: Magnific)
Selain membahas IHSG, Dr. Gema juga menyoroti harga oil yang kembali berada di kisaran US$100-105 per barel. Kenaikan ini dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan terhadap jalur pasokan melalui Selat Hormuz.
Jika gangguan tersebut berlanjut dan mengurangi pasokan, harga oil masih berpotensi bergerak lebih tinggi. Menurut Dr. Gema, harga berpotensi menuju area US$109-111, kemudian menguji sekitar US$117 apabila tekanan pasokan terus berlanjut.
Baca Juga: Range IHSG September 6.150-6.750, Waspadai Potensi Koreksi!
Kenaikan harga oil menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal dan nilai tukar.
Asumsi harga oil dalam APBN disebut berada di kisaran US$70-an. Jika harga bertahan jauh di atas level tersebut, beban subsidi energi berpotensi meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap anggaran negara.
Sementara itu, kenaikan harga oil juga dapat memberikan tekanan terhadap rupiah. Sebelumnya, rupiah disebut bergerak di kisaran 17.450-17.600 per dolar AS, dengan perhatian terhadap kemungkinan pergerakan berikutnya dan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Baca Juga: Roadmap IHSG dan Rupiah: Outlook September-Oktober 2026

Ilustrasi Harga Bitcoin
(Sumber Gambar: Magnific)
Selain IHSG dan oil, Dr. Gema juga membahas pergerakan harga Bitcoin. Setelah mengalami kenaikan yang cukup kuat, ia mengingatkan bahwa kondisi seperti ini perlu dihadapi dengan lebih hati-hati dan tidak sekadar mengejar harga yang sedang naik.
Menurutnya, Bitcoin berpotensi membentuk double top sehingga terdapat kemungkinan harga mengalami koreksi terlebih dahulu sebelum melanjutkan pergerakan berikutnya.
Salah satu area koreksi yang dibahas berada di sekitar 74.700-74.800, sementara skenario koreksi yang lebih dalam juga tetap perlu diperhatikan berdasarkan pergerakan harga berikutnya.
Baca Juga: Bitcoin Tembus Target $76.000, Lanjut Buy atau Sell di September?
Dengan kondisi market yang masih dinamis, memahami pergerakan harga dan skenario market menjadi penting agar keputusan tidak hanya didasarkan pada kepanikan atau pergerakan harga sesaat.
Ingin mendapatkan analisis market seperti ini? Yuk, gabung menjadi member A-CLUB SuperApp dan dapatkan akses ke berbagai fitur menarik, seperti trading plan, signal trading real-time, hingga konsultasi portofolio dengan analis Astronacci!
Tonton juga pembahasan selengkapnya di YouTube Astronacci!