Written by Astronacci, September 07, 2026
Saat ini, IHSG masih berada dalam fase recovery setelah sebelumnya mengalami tekanan yang cukup dalam. Namun, Dr. Gema Goeyardi memproyeksikan adanya potensi koreksi menuju 6.186.
Lalu, apa yang menjadi dasar proyeksi tersebut dan bagaimana peluang IHSG setelah koreksi? Cari tahu selengkapnya melalui analisis terbaru Astronacci berikut!

Ilustrasi IHSG Recovery
(Sumber Gambar: Magnific)
Dalam analisis IHSG sebelumnya, Dr. Gema telah menetapkan 6.705 sebagai target pertama recovery. Level ini berkaitan dengan area gap atau unfilled order dari pergerakan sebelumnya yang dinilai masih perlu “dibayar”.
Ketika analisis dilakukan, IHSG berada di sekitar 6.704, hanya terpaut satu poin dari target tersebut. Jika 6.705 berhasil tercapai, pergerakan IHSG masih berpotensi berlanjut sekitar 50-100 poin sebelum mengalami perlambatan.
Dalam proyeksi yang lebih panjang, Dr. Gema juga masih melihat peluang IHSG menuju 8.500, meski perjalanan menuju level tersebut dapat diselingi fase koreksi.
Baca Juga: Roadmap IHSG dan Rupiah: Outlook September-Oktober 2026
Keyakinan terhadap recovery IHSG tidak hanya didasarkan pada posisi harga. Dr. Gema menggunakan historical behavior, pattern, dan timing untuk membaca karakter penurunan sekaligus menentukan potensi titik reversal.
Pergerakan IHSG dibandingkan dengan karakter penurunan pada periode sebelumnya, termasuk saat market mengalami tekanan ekstrem pada masa COVID-19.
Menurut analisis Dr. Gema penurunan IHSG saat ini disebut belum mencapai tingkat ekstrem tersebut, yang secara historis berada di kisaran 65-69%.
Perbandingan ini digunakan untuk melihat apakah tekanan yang terjadi masih berada dalam karakter penurunan yang pernah terjadi sebelumnya, sekaligus menjadi salah satu pertimbangan dalam membaca peluang recovery.
Penurunan IHSG sejak April dibaca sebagai ABCDE Complex Correction. Fokusnya adalah mencari ending Wave E yang dapat menjadi penanda berakhirnya fase koreksi.
Dengan pendekatan ini, posisi harga tidak hanya dilihat dari seberapa dalam IHSG mengalami penurunan, tetapi juga dari struktur koreksi yang terbentuk hingga menemukan area yang berpotensi menjadi akhir Wave E.
Setelah pattern teridentifikasi, timing digunakan untuk menentukan kapan potensi reversal terjadi, dengan harga dan waktu perlu berada “inline”.
Tanggal 9 Juni 2026 disebut sebagai titik bottom yang sebelumnya telah diproyeksikan, sementara 15 Juni menjadi timing berikutnya yang juga sesuai dengan pemetaan. Konsep ini dikaitkan dengan Eye of Future, yaitu proyeksi yang dibuat sebelum pergerakan harga terjadi.
Dalam pembahasan, proyeksi bottom yang dibuat sebelum candle terbentuk kemudian terealisasi pada 9 Juni 2026. Setelah titik tersebut, IHSG menguat sekitar 26%.
Baca Juga: MSCI Ditunda Hingga November, Ini Prediksi IHSG untuk Semester II 2026!
Selain itu, Dr. Gema mempertimbangkan kondisi fundamental dan valuasi untuk melihat apakah recovery IHSG masih memiliki dasar yang kuat.
Ada beberapa faktor yang menjadi perhatian:
Tekanan market sebelumnya dikaitkan dengan capital outflow dari saham dan obligasi, termasuk perpindahan dana ke Singapura yang turut menekan rupiah. Namun, tekanan outflow tersebut disebut mulai mengecil.
Menurut Dr. Gema, tekanan pada IHSG tidak serta-merta menunjukkan bahwa fundamental utama Indonesia bermasalah. Artinya, penurunan harga perlu dilihat bersama dengan kondisi fundamental perusahaan dan ekonomi secara keseluruhan.
Pergerakan harga dibandingkan dengan PBV band atau PE band untuk melihat posisi saham terhadap nilai wajarnya. Sejumlah saham disebut telah berada pada area valuasi yang rendah, sementara saham-saham Himbara masih memberikan dividend yield sekitar 9-11%.
Kombinasi ketiga faktor tersebut menjadi salah satu dasar keyakinan bahwa tekanan IHSG masih membuka peluang untuk recovery.

Ilustrasi IHSG Koreksi
(Sumber Gambar: Magnific)
Meski target recovery pertama berada di 6.705, IHSG masih berpotensi mengalami koreksi menuju 6.186. Koreksi ini dapat dipengaruhi oleh isu domestik yang mendapat tekanan dari faktor eksternal, seperti kekhawatiran krisis utang dan perlambatan ekonomi global.
Namun, potensi koreksi ke 6.186 belum mengubah struktur bullish IHSG. Bagi trader yang sudah profit, take profit dapat dilakukan secara bertahap dan kembali melihat peluang akumulasi saat harga terkoreksi.
Smeentara itu, dalam proyeksi jangka panjang, IHSG masih berpeluang menuju 8.500 setelah melewati fase koreksi dan melanjutkan recovery.
Baca Juga: Begini Cara Dr. Gema Goeyardi Prediksi IHSG Crash dengan Metode Astronacci
Recovery IHSG tidak hanya dilihat dari pergerakan harga, tetapi melalui historical behavior, pattern, timing, kondisi fundamental, capital flow, dan valuasi.
Dari pendekatan tersebut, level 6.705 menjadi target recovery pertama, dengan potensi koreksi ke 6.186 yang tidak mengubah struktur bullish. Sementara dalam proyeksi jangka panjang, IHSG masih berpeluang menuju 8.500.
Ingin mendapatkan analisis dan insight market lebih mendalam? Yuk, gabung menjadi member A-CLUB SuperApp dan dapatkan akses ke berbagai fitur menarik lainnya!
Tonton juga pembahasan selengkapnya melalui YouTube Astronacci!