Written by Astronacci, August 14, 2026
Dalam analisis teknikal, level support dan resistance membantu trader mengidentifikasi area yang berpotensi menahan atau membalikkan pergerakan harga.
Namun, tidak semua titik pantulan harga dapat dijadikan acuan support atau resistance. Salah satu pendekatan untuk menemukan level yang lebih relevan adalah dengan mengidentifikasi swing high dan swing low pada chart.
Artikel ini akan membahas cara menentukan support dan resistance, hubungannya dengan swing high dan swing low, hingga contoh analisis pada real market saham.

Ilustrasi Support dan Resistance
(Sumber Gambar: AI Generate)
Support dan resistance adalah area harga yang dapat menahan pergerakan harga. Level support berada di bawah harga saat ini dan berpotensi menahan penurunan. Ketika harga mendekati support, tekanan jual dapat berkurang sehingga harga berpotensi memantul.
Sebaliknya, level resistance berada di atas harga saat ini dan berpotensi menahan kenaikan. Ketika harga mendekati resistance, tekanan jual dapat meningkat sehingga harga berpotensi tertahan atau mengalami pullback.
Contohnya, jika sebuah saham beberapa kali turun ke area Rp5.000 lalu kembali naik, area tersebut dapat menjadi support. Jika harga beberapa kali naik mendekati Rp6.000 lalu kembali turun, area tersebut dapat menjadi resistance.
Namun, level support dan resistance lebih tepat dipandang sebagai area, bukan garis harga yang pasti. Harga bisa saja sedikit menembus support atau resistance sebelum kembali bergerak ke arah sebelumnya.
Dalam trading, support dan resistance dapat digunakan untuk membantu membaca posisi harga, mencari potensi area reaksi, serta menentukan skenario apabila harga berhasil menembus level tertentu.
Baca Juga: Classic Support dan Resistance: Tips Hindari Kesalahan Trading Saham

Ilustrasi Swing High dan Swing Low
(Sumber Gambar: AI Generate)
Untuk memahami cara menentukan support dan resistance, trader perlu mengenal dua istilah penting, yaitu swing high dan swing low:
Swing high adalah titik puncak lokal pada pergerakan harga yang kemudian diikuti oleh penurunan. Sederhananya, harga bergerak naik, mencapai puncak, lalu berbalik turun. Puncak itulah yang disebut sebagai swing high.
Misalnya, harga bergerak:
Rp4.800 → Rp5.000 → Rp5.200 → Rp5.100 → Rp4.950.
Area sekitar Rp5.200 dapat menjadi swing high karena merupakan titik puncak sebelum harga berbalik turun. Swing high dapat menjadi kandidat resistance, terutama jika harga kembali naik ke area tersebut dan mendapatkan respons jual.
Sebaliknya, swing low adalah titik lembah lokal ketika harga mengalami penurunan lalu berbalik naik. Sederhananya, harga bergerak turun, mencapai lembah, lalu berbalik naik. Lembah itulah yang disebut sebagai swing low.
Misalnya, harga bergerak:
Rp5.200 → Rp5.000 → Rp4.800 → Rp4.950 → Rp5.100.
Area sekitar Rp4.800 dapat menjadi swing low karena merupakan titik terendah sebelum harga kembali bergerak naik. Swing low dapat menjadi kandidat support, terutama ketika harga kembali turun ke area tersebut dan mendapatkan respons beli.
Jadi, hubungan keduanya cukup sederhana:
Swing high → kandidat resistance
swing low → kandidat support.
Namun, kekuatan setiap level tetap perlu dilihat dari konteks pergerakan dan respons harga ketika area tersebut kembali diuji.
Dengan demikian, swing high dan swing low dapat digunakan sebagai titik awal untuk mencari level support dan resistance, bukan sebagai satu-satunya pertimbangan.
Baca Juga: Mengenal Jenis Support dan Resistance untuk Trading

Ilustrasi Menentukan Support dan Resistance
(Sumber Gambar: Magnific)
Lalu, bagaimana cara menentukan support dan resistance saham menggunakan swing high dan swing low?
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:
Langkah pertama adalah menentukan time frame yang ingin dianalisis.
Misalnya:
Time frame yang berbeda dapat menghasilkan swing high dan swing low yang berbeda pula. Level yang terlihat penting pada chart intraday belum tentu menjadi level penting pada chart daily.
Setelah menentukan time frame, lihat struktur pergerakan harga.
Cari titik ketika harga:
Jangan terburu-buru menarik garis hanya berdasarkan satu candle. Perhatikan pergerakan harga di sekitarnya untuk memastikan titik tersebut memang merupakan puncak atau lembah lokal.
Setelah menemukan swing high, tandai area harganya.
Misalnya, harga memiliki beberapa titik puncak di sekitar:
Daripada membuat tiga resistance yang sangat tipis, trader dapat mempertimbangkan area sekitar Rp4.950-Rp5.050 sebagai level resistance. Hal ini penting karena harga tidak selalu berhenti pada satu angka yang sama persis.
Lakukan hal yang sama untuk swing low.
Misalnya, harga memiliki beberapa titik lembah di sekitar:
Level support dapat dipertimbangkan di sekitar Rp4.700-Rp4.800. Semakin sering harga menunjukkan respons di suatu area, semakin menarik area tersebut untuk diperhatikan.
Setelah level support dan resistance ditandai, perhatikan apa yang terjadi ketika harga kembali mendekati level tersebut.
Misalnya:
Harga turun → mendekati support → muncul pembelian → harga memantul.
Respons tersebut memberikan informasi bahwa area support sedang mendapatkan reaksi.
Begitu pula jika:
Harga naik → mendekati resistance → tekanan jual meningkat → harga turun.
Hal tersebut menunjukkan adanya reaksi di area resistance.
Ketika harga mencapai resistance, ada dua skenario utama:
Hal yang sama berlaku pada support. Harga dapat memantul dari support atau justru breakdown.
Oleh karena itu, level support dan resistance sebaiknya digunakan untuk membuat beberapa skenario, bukan untuk memastikan harga pasti akan naik atau turun.
Baca Juga: Kesalahan-Kesalahan Umum Trader dalam Menentukan Support & Resistance
Sebagai contoh, Anda dapat melihat historis pergerakan harga saham BBCA (Bank Central Asia) berikut:

Chart Harga Saham BBCA
(Sumber Gambar: Trading View)
Pada chart harga saham BBCA di atas, dapat dilihat beberapa swing low dan swing high yang terbentuk seiring pergerakan harga. Swing low dapat menjadi kandidat support, sedangkan swing high dapat menjadi kandidat resistance.
Swing low di sekitar 7.000, 8.000, 8.600, dan 8.800 menjadi referensi penting karena dari area tersebut harga kembali naik. Ketika harga kembali mendekati area swing low, trader dapat melihat apakah buyer kembali mempertahankannya. Jika harga bertahan dan membentuk higher low, support semakin valid. Jika ditembus dengan tekanan jual yang kuat, support dapat kehilangan kekuatannya.
Sementara itu, swing high di sekitar 9.000, 9.400, 10.300, hingga 10.800-11.000 menunjukkan area ketika harga sebelumnya mengalami penurunan. Ketika harga kembali mendekati area tersebut, trader dapat melihat apakah tekanan jual kembali muncul. Jika berhasil breakout dengan momentum kuat, resistance berpotensi berubah menjadi support baru (role reversal).
Contoh ini menunjukkan bahwa swing high dan swing low dapat digunakan untuk memetakan area support dan resistance. Namun, trader tetap perlu melihat reaksi harga ketika area tersebut kembali diuji, bukan hanya mengandalkan level swing yang terbentuk sebelumnya.
Berikut beberapa tips yang dapat membantu Anda saat belajar menentukan support dan resistance:
Dengan menerapkan tips-tips di atas, trader dapat menentukan support dan resistance secara lebih terarah. Level yang terbentuk kemudian dapat digunakan untuk memantau reaksi harga dan menyiapkan skenario trading.
Baca Juga: Tips & Cara Menggunakan Level Support dan Resistance, Strategi Trading Cerdas!
Itulah cara menentukan support dan resistance menggunakan swing high dan swing low, mulai dari mengidentifikasi level hingga melihat contoh analisis pada real market saham BBCA.
Dengan memahaminya, trader dapat menggunakan swing high sebagai kandidat resistance dan swing low sebagai kandidat support, kemudian memperhatikan struktur, time frame, serta reaksi harga saat area tersebut kembali diuji.
Ingin memperdalam kemampuan membaca chart dan memahami analisis teknikal secara lebih terarah? Ikuti program CAT Institute dari Astronacci untuk mendapatkan pembelajaran trading private 1-on-1 bersama analis profesional. Hubungi kami untuk informasi selengkapnya.
Disclaimer
Konten dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi maupun ajakan untuk melakukan transaksi saham tertentu. Setiap keputusan trading dan pengelolaan risiko sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca.