Rupiah Tembus Rp18.000, Begini Dampak dan Prediksi Selanjutnya!

Rupiah Tembus Rp18.000, Begini Dampak dan Prediksi Selanjutnya!

Written by Astronacci, June 08, 2026

Nilai tukar rupiah tembus level Rp18.000 per USD pada 4 Juni 2026. Setelah target-target sebelumnya hampir tercapai, Asst. Prof. Dr. Gema Goeyardi dan tim analis Astronacci kembali memperbarui proyeksi dan menemukan area target baru.

Lalu, bagaimana prediksi rupiah selanjutnya? Apakah masih akan terus melemah, dan apa dampaknya bagi ekonomi maupun pasar saham Indonesia? Temukan jawabannya di sini!

Target Rupiah Rp18.050 Tercapai

rupiah melemah tembus 18.000

Ilustrasi Rupiah Melemah

(Sumber Gambar: Magnific)

Pada analisis rupiah yang dirilis tanggal 28 April 2026 lalu, Dr. Gema telah memproyeksikan sejumlah target penting untuk pergerakan rupiah, mulai dari area Rp17.520, Rp18.050, hingga Rp18.220 per USD.

Saat artikel ini ditulis, nilai tukar rupiah sudah mencapai level tertinggi sekitar Rp18.108. Artinya, target Rp18.050 yang sebelumnya dipetakan sudah tercapai.

Oleh karena itulah, Dr. Gema kembali mengevaluasi pergerakan rupiah untuk mengetahui apakah tren pelemahan masih akan berlanjut atau mulai mendekati area pembalikan (reversal).

Baca Juga: The Untold Story di Balik Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok

Prediksi Rupiah Tembus Rp18.220-Rp18.775

prediksi rupiah melemah tembus 18.775

Prediksi Rupiah Melemah Hingga Rp18.775

(Sumber Gambar: YouTube Astronacci)

Berdasarkan analisis terbaru, terdapat beberapa cluster resistance yang menunjukkan potensi pergerakan rupiah menuju area yang lebih tinggi.

Perhitungan tersebut berasal dari kombinasi beberapa metode analisis, antara lain:

  • pola Cup and Handle
  • Fibonacci Cluster
  • area resistance jangka panjang
  • potensi pembentukan Ascending Broadening Wedge (ABW)

Dari kombinasi beberapa metode tersebut, muncul beberapa level penting yang menjadi perhatian, yaitu:

  • Rp18.220
  • Rp18.600
  • Rp18.700
  • Rp18.775

Bahkan dalam skenario yang lebih ekstrem, terdapat proyeksi yang mengarah ke area Rp19.000, tetapi untuk saat ini fokus utama masih berada pada rentang Rp18.220-Rp18.775. 

Menurut Dr. Gema, area tersebut merupakan cluster target yang paling relevan berdasarkan struktur harga yang sedang terbentuk.

Level Rp18.775 Dianggap Penting

Banyak orang beranggapan bahwa kondisi rupiah yang melemah akan otomatis menguntungkan Indonesia karena sektor ekspor menjadi lebih kompetitif. 

Padahal menurut Dr. Gema, kondisi tersebut tidak sesederhana itu. Memang benar sebagian eksportir dapat memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah. 

Akan tetapi, di sisi lain terdapat berbagai risiko yang juga ikut meningkat sehingga perlu diperhatikan, di antaranya: 

  • biaya impor yang semakin mahal
  • tekanan terhadap utang luar negeri
  • meningkatnya biaya produksi yang bergantung pada bahan baku impor
  • potensi berkurangnya cadangan devisa
  • tekanan terhadap APBN

Dalam pembahasannya, Dr. Gema menjelaskan bahwa setiap manfaat yang diperoleh dari kondisi rupiah yang melemah harus dibayar dengan risiko yang jauh lebih besar.

Dalam analisis sweet spot rupiah sebelumnya, rasio manfaat dan risiko berada di kisaran 1 banding 1,8. Namun apabila rupiah bergerak menuju area Rp18.220-Rp18.775, rasio tersebut berpotensi meningkat menjadi sekitar 1 banding 2,63.

Artinya, tekanan yang harus ditanggung ekonomi nasional dapat menjadi lebih besar dibanding manfaat yang diperoleh.

Baca Juga: Tsunami Ekonomi Indonesia, Begini Cara Amankan Profit Anda!

Pengaruh Harga Minyak Dunia

pengaruh harga minyak dunia terhadap rupiah

Ilustrasi Harga Minyak Dunia

(Sumber Gambar: Magnific)

Selain pergerakan dolar AS, kondisi harga minyak dunia juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Indonesia masih melakukan impor energi dalam jumlah besar. 

Oleh karena itu, kombinasi antara harga minyak yang tinggi dan rupiah yang melemah dapat memberikan tekanan ganda terhadap perekonomian Indonesia.

Dalam analisis rupiah kali ini, Dr. Gema juga menyoroti bahwa jika harga minyak terus meningkat sementara rupiah bergerak menuju area Rp18.775, surplus neraca perdagangan Indonesia berpotensi semakin tertekan. 

Dan situasi ini dapat semakin memperberat tantangan ekonomi yang sedang dihadapi.

Dampak Rupiah Melemah terhadap IHSG

Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor riil, tetapi juga dapat memengaruhi pasar modal Indonesia.

Menurut Dr. Gema, pergerakan rupiah dan IHSG sering kali memiliki keterkaitan yang cukup erat. Ketika tekanan terhadap rupiah meningkat, sentimen investor asing terhadap pasar saham Indonesia juga dapat ikut terpengaruh.

Oleh karena itu, apabila nilai tukar rupiah terus bergerak menuju area target berikutnya, peluang IHSG untuk mengalami tekanan tambahan masih perlu diwaspadai.

Meski demikian, kondisi ini tidak berarti seluruh saham akan mengalami penurunan. Trader dan investor tetap perlu melihat kualitas fundamental emiten serta menerapkan manajemen risiko yang tepat dalam menghadapi volatilitas market.

Baca Juga: IHSG Reversal! Update Mei-Juni 2026, Harus Beli atau Jual Semua?

Dapatkan Analisis Pergerakan Market dari A-CLUB SuperApp

Dengan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp18.000 per USD, tekanan terhadap mata uang Indonesia tampaknya masih belum berakhir.

Namun, yang perlu diperhatikan bukan hanya level harganya, melainkan juga dampaknya terhadap ekonomi nasional, mulai dari biaya impor, utang luar negeri, neraca perdagangan, hingga pergerakan IHSG.

Nah, jika Anda ingin mendapatkan analisis market dan trading plan untuk membaca potensi pergerakan market di tengah kondisi saat ini, Anda bisa bergabung menjadi member A-CLUB SuperApp.

Tonton juga pembahasan selengkapnya mengenai proyeksi rupiah dan target berikutnya melalui channel YouTube Astronacci.

Butuh Konsultasi?

Hubungi Kami