Written by Astronacci, May 26, 2026
Belakangan muncul anggapan bahwa rupiah melemah makin bagus dan justru menguntungkan Indonesia karena negara ini merupakan eksportir komoditas. Namun, benarkah demikian?
Melalui analisis berbasis data ekonomi, Asst. Prof. Dr. Gema Goeyardi menjelaskan bahwa rupiah melemah justru menimbulkan beban yang jauh lebih besar dibanding keuntungan ekspor yang diperoleh.
Lalu, sebenarnya berapa “sweet spot” rupiah atau level yang dianggap paling ideal untuk ekonomi Indonesia? Simak pembahasan lengkapnya dalam artikel ini!

Ilustrasi Sweet Spot Rupiah
(Sumber Gambar: ChatGPT)
Menurut analisis, level ideal atau sweet spot rupiah berada di kisaran Rp14.500-15.500, dengan titik paling optimal di sekitar Rp15.000 per USD.
Kesimpulan ini diperoleh melalui kombinasi tiga framework utama:
Dari ketiga framework di atas, area Rp15.000 menjadi titik tengah yang dianggap paling seimbang antara daya saing ekspor, stabilitas inflasi, dan kesehatan ekonomi domestik.
Baca Juga: The Untold Story di Balik Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok
Pelemahan Rupiah memang memberikan keuntungan bagi beberapa sektor tertentu, terutama:
Sektor seperti CPO, batu bara, nikel, dan besi baja mendapat keuntungan translasi kurs hingga sekitar Rp448 triliun.
Namun, keuntungan ini bukan berasal dari peningkatan produktivitas, melainkan karena selisih nilai tukar USD terhadap rupiah.
Sektor seperti garmen, alas kaki, furniture juga diuntungkan karena biaya tenaga kerja tetap dibayar dalam rupiah, sementara pendapatan diterima dalam USD.
Masyarakat atau institusi yang memiliki tabungan dan aset dalam USD otomatis memperoleh capital gain akibat rupiah melemah.
Baca Juga: Kapan IHSG Berhenti Turun? Analisis Terbaru & Update Harga Saham BBRI

Analisis Rupiah Melemah
(Sumber Gambar: YouTube Astronacci)
Meski ada pihak yang diuntungkan, dampak negatif melemahnya rupiah dinilai jauh lebih besar pada beberapa sektor, terutama:
Utang luar negeri pemerintah membengkak hingga sekitar Rp600 triliun akibat pelemahan kurs.
Utang luar negeri swasta diperkirakan bertambah sekitar Rp540 triliun.
Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku. Akibatnya, pelemahan rupiah membuat biaya produksi naik drastis hingga sekitar Rp478 triliun.
Kenaikan harga impor memicu inflasi tambahan sekitar 4,5%, penurunan daya beli riil hingga 15,7%, dan potensi kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok.
Subsidi BBM dan energi diperkirakan bertambah sekitar Rp102 triliun per tahun akibat kurs yang melemah.
Baca Juga: Tsunami Ekonomi Indonesia, Begini Cara Amankan Profit Anda!

Rasio Untung vs Rugi
(Sumber Gambar: Magnific)
Dalam simulasi yang dilakukan Asst. Prof. Dr. Gema Goeyardi:
Artinya, setiap Rp1 keuntungan ekspor harus dibayar dengan Rp1,8 kerugian beban ekonomi.
Inilah alasan mengapa asumsi “rupiah makin lemah makin bagus” dianggap kurang tepat jika melihat dampak ekonomi Indonesia secara menyeluruh.
Menurut analisis, penguatan rupiah menuju Rp15.000 membutuhkan kombinasi faktor teknis dan non-teknis yang sangat besar.
Beberapa langkah yang dianggap perlu dilakukan:
Jangka Pendek (0-6 bulan)
Jangka Menengah (6-24 bulan)
Jangka Panjang (2 tahun+)
Agar rupiah bisa menguat ke Rp15.000, Asst. Prof. Dr. Gema Goeyardi memperkirakan kebutuhan intervensi mencapai $15-25 miliar cash ditambah $30-40 miliar derivatif.
Padahal, hingga saat analisis ini dibuat, Bank Indonesia disebut sudah menggunakan sekitar $10,3 miliar untuk intervensi, tetapi rupiah masih berada di area Rp17.600-17.700.
Baca Juga: IHSG Naik atau Masih Turun? Cek Update Time Trading Terbaru
Selain faktor ekonomi, Asst. Prof. Dr. Gema Goeyardi menilai keberhasilan penguatan rupiah sangat dipengaruhi oleh:
Kepercayaan investor menjadi faktor utama. Ketika kepercayaan turun, capital outflow meningkat dan tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Ilustrasi Probabilitas Rupiah Menguat
(Sumber Gambar: Magnific)
Menurut perhitungan probabilitas:
Sementara target realistis dalam 12 bulan dinilai berada di kisaran Rp16.500-17.000.
Bahkan untuk mencapai Rp15.000 dalam waktu 30 hari, probabilitasnya hanya sekitar 3-5%.
Baca Juga: IHSG Reversal! Update Mei-Juni 2026, Harus Beli atau Jual Semua?
Jadi kesimpulannya, pelemahan rupiah memang memberi keuntungan bagi sebagian eksportir dan pemegang aset USD.
Namun secara keseluruhan, beban ekonomi yang ditanggung negara, industri, dan masyarakat jauh lebih besar.
Nah, jika Anda ingin mendapatkan analisis market dan trading plan untuk membaca potensi pergerakan market di tengah kondisi saat ini, Anda bisa bergabung menjadi member A-CLUB SuperApp.
Tonton juga pembahasan selengkapnya tentang sweet spot rupiah melalui channel YouTube Astronacci.