Written by Astronacci, June 17, 2026
IHSG mengalami koreksi hampir 40% dari level tertingginya, sementara rupiah terus melemah dan investor asing mencatatkan aksi jual besar-besaran sepanjang tahun 2026.
Menanggapi situasi ini, Asst. Prof. Dr. Gema Goeyardi menyampaikan sejumlah kritik sekaligus 10 solusi yang ditujukan kepada pemerintah, regulator, dan Bursa Efek Indonesia.
Apa saja langkah yang perlu segera dilakukan untuk memperbaiki kondisi pasar modal Indonesia? Simak selengkapnya dalam artikel berikut.

Ilustrasi IHSG Turun 40%
(Sumber Gambar: Magnific)
Dalam pemaparannya, Dr. Gema menyoroti kondisi IHSG yang telah mengalami koreksi sekitar 37,9% dari level tertingginya hanya dalam waktu empat bulan. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah juga terus melemah hingga sempat menyentuh Rp18.050 per dolar AS.
Selain itu, investor asing tercatat terus melakukan aksi jual sejak awal tahun 2026. Nilai net sell asing telah mencapai Rp68,5 triliun, ditambah outflow dari Surat Berharga Negara (SBN) sekitar Rp22 triliun.
Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa perbaikan yang berarti, tekanan terhadap pasar modal Indonesia dapat semakin besar.
Baca Juga: The Untold Story di Balik Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok
Dr. Gema menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang saat ini memberikan tekanan terhadap pasar modal Indonesia.
Konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah membuat harga minyak dunia sempat melonjak hingga menyentuh level $119 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi ancaman bagi Indonesia karena berpotensi memperbesar defisit perdagangan sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Indonesia juga menghadapi tekanan dari kebijakan tarif AS. Setelah sebelumnya dikenakan tarif sebesar 19%, muncul ancaman tambahan tarif 10% bagi negara-negara yang tergabung dalam BRICS.
Jika skenario ini benar-benar terjadi, tarif Indonesia berpotensi naik menjadi 29%. Menurut Dr. Gema, kondisi ini dapat memberikan tekanan lebih lanjut terhadap ekspor, nilai tukar rupiah, dan pasar saham Indonesia.
Arus keluar dana asing menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan. Ketika investor asing terus menjual asetnya di Indonesia, likuiditas pasar berkurang dan tekanan terhadap harga saham menjadi semakin besar.
Oleh karena itu, menurutnya Indonesia perlu memikirkan berbagai insentif yang dapat membuat investor tetap bertahan di pasar domestik.
Selain faktor eksternal, Dr. Gema juga menyoroti berbagai persoalan internal yang dinilai turut memengaruhi kepercayaan investor.
Mulai dari kebijakan yang dianggap tidak sinkron antar kementerian, komunikasi yang kurang terkoordinasi, hingga perubahan kebijakan yang menimbulkan ketidakpastian di mata pelaku pasar.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Begini Dampak dan Prediksi Selanjutnya!

Ilustrasi Struktur Investor Tidak Seimbang
(Sumber Gambar: Magnific)
Salah satu hal yang cukup menarik perhatian dalam pemaparannya adalah struktur investor pasar modal Indonesia. Berdasarkan data yang ditampilkan, lebih dari 54% investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
Namun, sebagian besar dana investasi justru dimiliki oleh investor berusia di atas 50 tahun. Bahkan, investor berusia di atas 60 tahun yang jumlahnya hanya sekitar 2,74% menguasai dana hingga Rp869 triliun.
"Mayoritas investor bukan pemilik mayoritas aset."
Menurut Dr. Gema, kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam struktur investor Indonesia.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap praktik nominee account atau penggunaan nama pihak lain yang berpotensi dimanfaatkan untuk aktivitas manipulasi pasar.
Baca Juga: The Untold Story 2: Mengapa Rupiah dan IHSG Terus Tertekan?

Ilustrasi Solusi untuk Pasar Modal Indonesia
(Sumber Gambar: Magnific)
Sebagai solusinya, Dr. Gema mengusulkan 10 langkah strategis yang menurutnya dapat membantu meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia.
Buyback dinilai dapat membantu menjaga stabilitas harga saham, khususnya pada perusahaan-perusahaan BUMN yang secara fundamental masih kuat.
Menurutnya, Indonesia perlu segera memenuhi standar free float yang diharapkan oleh MSCI agar tidak terus mengalami penurunan daya tarik di mata investor global.
Saat ini Indonesia masih menggunakan sistem T+2. Penerapan T+1 dinilai dapat meningkatkan efisiensi dan mempercepat perputaran dana di pasar.
Pengawasan terhadap akun nominee dianggap penting untuk menjaga transparansi dan meningkatkan kualitas pasar modal.
Menurutnya, sistem batas atas dan bawah yang terlalu asimetris dapat menciptakan distorsi pasar dan mengurangi kepercayaan investor.
Salah satu kritik yang disampaikan Dr. Gema adalah terkait penerapan UMA dan suspensi saham oleh Bursa Efek Indonesia.
"Jangan saham naik disuspensi, yang turun dibiarkan. Itu salah fatal,” tegasnya.
Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dibuat lebih seimbang antara saham yang mengalami kenaikan maupun penurunan ekstrem.
Dr. Gema mengusulkan agar dividen untuk investor retail diberikan insentif pajak yang lebih ringan, bahkan jika memungkinkan menjadi 0%.
Menurutnya, langkah ini dapat mendorong lebih banyak investor untuk berinvestasi jangka panjang di pasar saham Indonesia.
Dana institusi domestik perlu diberi ruang yang lebih besar untuk berpartisipasi di pasar modal guna memperkuat stabilitas pasar modal.
Kebijakan ini dinilai dapat meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.
Menurutnya, proses pembukaan rekening dan akses investasi bagi investor asing masih perlu disederhanakan. Tujuannya adalah meningkatkan aliran modal masuk sekaligus memperkuat permintaan terhadap rupiah.
Baca Juga: Begini Cara Dr. Gema Goeyardi Prediksi IHSG Crash dengan Metode Astronacci
Meski pasar modal Indonesia sedang menghadapi berbagai tekanan, Dr. Gema meyakini bahwa Indonesia masih memiliki harapan.
Menurutnya, setiap fase koreksi selalu menghadirkan peluang bagi investor yang mampu mempersiapkan diri dan membaca market dengan baik.
Jika ingin mempelajari peluang investasi serta strategi trading yang relevan di tengah kondisi market saat ini, Anda bisa bergabung menjadi member A-CLUB SuperApp.
Tonton juga pembahasan lengkapnya melalui channel YouTube Astronacci.