The Untold Story 2: Mengapa Rupiah dan IHSG Terus Tertekan?

The Untold Story 2: Mengapa Rupiah dan IHSG Terus Tertekan?

Written by Astronacci, June 09, 2026

Setelah membahas berbagai dugaan tekanan eksternal terhadap Indonesia, Dr. Gema Goeyardi kembali melanjutkan analisisnya melalui The Untold Story Part 2. 

Lalu, apa saja faktor yang menjadi sorotan dalam analisis kali ini? Temukan pembahasannya selengkapnya dalam artikel berikut!

Kondisi Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Solid 

rupiah dan ihsg, fundamental ekonomi indonesia

Ilustrasi Kondisi Fundamental Ekonomi Indonesia

(Sumber Gambar: Magnific)

Dalam The Untold Story Part 1, Dr. Gema membahas pandangannya mengenai berbagai tekanan yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari pelemahan rupiah hingga koreksi tajam IHSG.

Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dijelaskan hanya dari faktor internal. Faktor eksternal dan dinamika geopolitik juga dinilai turut memengaruhi pergerakan pasar Indonesia.

Melalui pembahasan kali ini, ia kemudian melanjutkan analisisnya dengan menyoroti sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid.

Beberapa indikator tersebut antara lain:

1. Pertumbuhan PDB

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,61% (year-on-year) pada kuartal pertama (Q1) 2026, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi sejak 2021. 

2. Inflasi

Inflasi berada di level 3,08%, masih dalam rentang target Bank Indonesia dan menunjukkan stabilitas harga yang relatif terjaga. 

3. Cadangan Devisa 

Cadangan devisa tercatat sebesar US$146,2 miliar, yang masih dinilai cukup kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kebutuhan impor.

4. Rasio Utang

Rasio utang terhadap PDB berada di level 40,75%, masih jauh di bawah batas maksimal 60%. 

5. Neraca Perdagangan

Indonesia juga mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$5,64 miliar,yang  menunjukkan nilai ekspor masih lebih tinggi dibandingkan impor.

Berdasarkan lima indikator di atas, ia menilai bahwa secara fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik. 

Baca Juga: Tsunami Ekonomi Indonesia, Begini Cara Amankan Profit Anda!

Tekanan Sentimen dari Lembaga Keuangan Global 

Selain faktor fundamental, Dr. Gema juga menyoroti sejumlah keputusan lembaga keuangan internasional yang menurutnya memengaruhi sentimen investor terhadap Indonesia sepanjang 2026. 

Januari 2026: MSCI membekukan sejumlah indeks Indonesia dan mengancam menurunkan status pasar saham Indonesia ke kategori frontier market.

Januari 2026: Goldman Sachs menurunkan rekomendasi Indonesia menjadi underweight.

Januari 2026: UBS mengubah pandangan terhadap Indonesia menjadi neutral.

Februari 2026: Moody's memberikan outlook negatif terhadap Indonesia.

Mei 2026: MSCI mencoret 19 emiten dari indeksnya yang berpotensi memicu arus keluar dana pasif.

Menurutnya, rangkaian peristiwa tersebut turut membentuk sentimen negatif investor global terhadap Indonesia dan meningkatkan tekanan di pasar keuangan.

Baca Juga: Rupiah Melemah Makin Bagus? Ini Sweet Spot Rupiah!

Rupiah Melemah Saat Dolar AS Relatif Stabil

rupiah melemah, dolar as tidak menguat

Ilustrasi Dolar AS yang Stabil

(Sumber Gambar: Magnific)

Salah satu hal yang menjadi perhatian Dr. Gema adalah pelemahan rupiah yang terjadi ketika Indeks Dolar AS (DXY) justru bergerak relatif stabil.

Saat rupiah menyentuh level Rp17.520 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026, DXY tidak menunjukkan penguatan signifikan. 

Di sisi lain, dolar Singapura (SGD) justru menguat terhadap dolar AS (USD), sementara rupiah melemah baik terhadap USD maupun SGD.

Dari kondisi tersebut, ia menduga terjadi arus keluar dana dari Indonesia yang sebagian mengalir ke Singapura.

Singapura Menjadi Tujuan Arus Modal Asing 

Dugaan tersebut semakin diperkuat oleh sejumlah data yang menunjukkan pasar keuangan Singapura justru menguat ketika pasar Indonesia mengalami tekanan.

Pada 13 Februari 2026, Indonesia mencatat net sell sekitar Rp14 triliun, sementara Straits Times Index (STI) Singapura menembus level 5.000 poin untuk pertama kalinya dengan dukungan inflow ETF sekitar SG$643 juta.

Tekanan juga berlanjut pada 19-23 Mei 2026. Bahkan pada 29 Mei, pasar Indonesia mengalami outflow sekitar Rp8,5 triliun dalam satu hari, sementara STI mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan sejumlah pasar regional. 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat Singapura semakin sering dipandang sebagai tujuan penempatan modal ketika investor mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia.

Baca Juga: IHSG Reversal! Update Mei-Juni 2026, Harus Beli atau Jual Semua?

Peran Singapura dalam Arus Modal Global

peran singapura dalam arus modal global

Ilustrasi Singapura dalam Arus Modal Global

(Sumber Gambar: Magnific)

Selain itu, Dr. Gema juga menyoroti posisi Singapura sebagai salah satu pusat keuangan terbesar di Asia.

Berdasarkan data yang ditampilkan, nilai Foreign Direct Investment (FDI) AS di Singapura mencapai sekitar US$467 miliar pada akhir 2024. 

Angka tersebut menempatkan Singapura sebagai tujuan investasi AS terbesar di Asia dan peringkat keempat dunia setelah Inggris, Belanda, dan Luksemburg. 

Selain itu, total stok investasi asing langsung di Singapura mencapai sekitar US$3,13 triliun, dengan sektor keuangan dan asuransi menjadi salah satu kontributor terbesar.

Menurutnya, posisi tersebut membuat Singapura memiliki peran yang sangat penting dalam pergerakan modal global, termasuk di kawasan Asia.

Hubungan Indonesia dengan AS dan Eropa 

Dalam analisisnya, Dr. Gema juga menyoroti sejumlah kerja sama strategis Indonesia dengan AS dan negara-negara Eropa.

Ia menyebut Indonesia memiliki komitmen pembelian produk dari AS senilai sekitar US$15 miliar, termasuk rencana pembelian pesawat Boeing senilai US$1 miliar.

Di sisi lain, Indonesia telah merealisasikan sejumlah kerja sama dengan Eropa, termasuk pembelian pesawat tempur Rafale dari Prancis senilai sekitar US$8,1 miliar serta berbagai kerja sama pertahanan lainnya.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan upaya Indonesia untuk menjaga kebijakan luar negeri yang bebas aktif dan tidak bergantung pada satu blok kekuatan tertentu.

Baca Juga: Begini Cara Dr. Gema Goeyardi Prediksi IHSG Crash dengan Metode Astronacci

Strategi Trading di Tengah Tekanan

Berdasarkan penjelasan di atas, kondisi rupiah yang melemah dan IHSG yang anjlok tidak sepenuhnya mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. 

Sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan kondisi yang relatif solid, meski pasar tetap menghadapi tekanan dari sentimen investor global, arus modal asing, keputusan lembaga internasional, serta dinamika geopolitik.

Oleh karena itu, memahami pergerakan pasar tidak cukup hanya melihat data ekonomi domestik, tetapi juga perlu memperhatikan faktor-faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah market.

Jika ingin mengetahui strategi trading dan investasi yang relevan di tengah kondisi market saat ini, Anda bisa bergabung menjadi member A-CLUB SuperApp

Tonton juga pembahasan lengkapnya melalui channel YouTube Astronacci.

Butuh Konsultasi?

Hubungi Kami